Kenali Program Imunisasi untuk Anak Anda

Imunisasi merupakan proses yang dapat membuat seseorang memiliki imunitas atau kebal terhadap terhadap suatu penyakit. Proses ini dilaksanakan dengan memberikan vaksin yang merangsang sistem imunitas tubuh sehingga kebal terhadap penyakit tersebut.

Telah diketahui bahwa bayi yang baru lahir telah memiliki antibodi alami yang dinamakan kekebalan pasif. Antibodi diperoleh dari ibunya saat bayi berada di dalam kandungan. Akan tetapi, kekebalan ini hanya akan bertahan pada jangka waktu beberapa minggu atau bulan saja. Setelah waktu tersebut, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Berdasarkan cakupan imunisasi, maka dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa  pada tahun 2017 sekitar 91% bayi di Indonesia  telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Nah berikut kami paparkan beberapa contoh imunisasi yang biasa diberikan pada usia bayi hingga balita. Simak baik-baik, yuk!

  1. Vaksin Campak

Penyakit campak atau yang biasa disebut rubeola  merupakan penyakit akibat infeksi menular yang umum terjadi pada masa anak-anak. Penyakit campak biasanya menyerang saluran pernapasan yang kemudian dapat menginfeksi dan mempengaruhi seluruh tubuh.

READ  Mengenal Lebih Jauh Penyakit dan Informasi Umum Hiponatremia

Melalui vaksin campak atau program imunisasi imunisasi maka akan membantu menurunkan risiko anak Anda tertular penyakit campak. Vaksin campak diberikan untuk mencegah munculnya penyakit campak yang berat serta mampu menyebabkan diare, pneumonia hingga dapat menyerang otak.

Vaksin campak umunya dapat diberikan dalam jumlah 2 kali, yaitu saat anak Anda menginjak 9 bulan dan 24 bulan. Akan tetapi muncul juga mekanisme  bahwa vaksin campak yang kedua pada usia 24 bulan tidak perlu lagi diberikan apabila anak Anda telah memperoleh vaksin MMR pada usia 15 bulan. Sebelum program ini dilaksanakan secara global, campak merupakan penyakit endemik yang menyebabkan kematian anak terbanyak setiap tahun di dunia.

  1. Vaksin Hepatitis B

Vaksin diberikan dalam rangka pencegahan infeksi hati serius, yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Dilansir dari laman Alodokter, vaksin hepatitis B diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir, dengan didahului suntik vitamin K, minimal 30 menit sebelumnya. Kemudian diberikan kembali saat menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

READ  Mengenal Lebih Mendalam Mengenai Gangguan Hipoksia

Program imunisasi berupa vaksin hepatitis B dapat menimbulkan efek samping, seperti demam serta lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek samping bisa berupa gatal-gatal, kulit kemerahan, dan pembengkakan pada wajah. Oleh karena itu untuk mengurangi efek samping yang parah, vaksin memang perlu diberikan. Narasumber utama Dr. Arifianto, Sp.A dalam kuliah whatsapp yang bekerjasama dengan theAsiaparents Indonesia, dokter spesialis anak ini pentingnya imunisasi ini tidak boleh diabaikan, karena jika dilakukan bisa menyelamatkan banyak nyawa.

  1. Vaksin Polio

Polio ialah penyakit menular dimana penyebabnya merupakan virus. Dalam beberapa kasus yang parah, polio umumnya menimbulkan beberapa keluhan diantaranya keluhan sesak napas, kelumpuhan, bahkan menyebabkan kematian.

READ  Mengenal Gejala dan Kondisi Umum Hiponatremia

 

Program imunisasi polio dapat diberikan pertama kali  saat anak baru dilahirkan hingga usia 1 bulan. Lalu, vaksin ini kembali diberikan tiap bulan berturut-turut saat anak Anda menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk metode penguatan, vaksin kemudian diberikan saat usia 18 bulan. Orang dewasa dalam kondisi tertentu pun dapat diberikan vaksin polio jika diperlukan.

Perlu Anda ketahui bahwa, vaksin polio dapat menimbulkan gejala demam bahkan lebih dari 39 derajat celsius. Juga menimbulkan efek samping sepertireaksi alergi seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas atau menelan, hingga menimbulkan bengkak pada wajah.

Itulah beberapa program imunisasi penting yang patut Anda berikan pada anak Anda sejak masa bayi hingga kanak-kanak. Hal ini tentunya bermanfaat bagi tumbuh kembang dan kesehatannya di masa mendatang.

 

Sumber gambar :  www.suara.com

nationalgeographic.grid.id